Phronema Gereja vs Humanisme Sekuler: Benturan Dua Dunia yang Tak Bisa Didamaikan
Di zaman modern, konflik terbesar dalam kehidupan manusia bukan sekadar moral atau budaya, melainkan cara berpikir yang paling mendasar: bagaimana manusia memahami dirinya sendiri, dunia, dan Allah. Dalam tradisi Gereja Orthodox, cara berpikir ini disebut phronema — sebuah istilah Yunani yang menunjuk pada orientasi batin, pola pikir terdalam, dan cara seseorang melihat seluruh realitas.
Rasul Paulus menulis:
“Karena mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; tetapi mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” (Roma 8:5)
Di sinilah titik awalnya: tidak ada netralitas dalam cara berpikir manusia. Setiap orang hidup dalam suatu phronema. Dalam konteks dunia modern, benturan itu muncul jelas antara phronema Gereja dan apa yang kini dikenal sebagai humanisme sekuler.
Phronema Gereja: Pikiran Kristus yang Hidup
Phronema Gereja bukan sekadar pandangan teologis atau doktrin intelektual. Ia adalah cara hidup yang dibentuk oleh Roh Kudus dalam tubuh Kristus, yaitu Gereja.
Rasul Paulus berkata:
“Kami memiliki pikiran Kristus.”
(1 Korintus 2:16)
Artinya, iman Kristen bukan hanya percaya kepada Kristus, tetapi masuk ke dalam cara Kristus melihat realitas. Dunia tidak lagi dipahami secara otonom, melainkan dalam terang salib dan kebangkitan.
Para Bapa Gereja menegaskan hal ini dengan sangat jelas. St. Maksimos Pengaku Iman mengajarkan bahwa kejatuhan manusia terjadi ketika kehendak manusia dipisahkan dari kehendak Allah. St. Isaac dari Syria berbicara tentang pikiran yang dimurnikan, yang mulai melihat segala sesuatu dalam terang kasih ilahi. St. Yohanes Krisostomus menekankan bahwa iman sejati mengubah cara seseorang menilai dan merespons dunia.
Dengan demikian, phronema Gereja adalah pikiran yang telah disalibkan bersama Kristus, dimurnikan dari ego, dan diarahkan sepenuhnya kepada Allah.
- Humanisme Sekuler: Kebebasan Tanpa Akar Ilahi
Di sisi lain, humanisme sekuler muncul sebagai paradigma dominan dalam dunia modern. Ia menempatkan manusia sebagai pusat realitas dan sumber utama makna.
Dalam kerangka ini, manusia menentukan sendiri kebenaran, moralitas menjadi relatif, dan tujuan hidup dibentuk oleh keinginan pribadi. Allah, jika masih diakui, sering direduksi menjadi simbol atau pilihan pribadi, bukan realitas yang menentukan keberadaan manusia.
Namun dari perspektif Gereja, ini bukan sekadar perkembangan intelektual modern. Ini adalah pengulangan dari godaan paling awal dalam sejarah manusia:
“Kamu akan menjadi seperti Allah.”
(Kejadian 3:5)
Humanisme sekuler tampak menawarkan kebebasan, tetapi pada dasarnya ia adalah usaha manusia untuk hidup tanpa partisipasi dalam Allah.
Dua Arah Hidup yang Berlawanan
Perbedaan antara phronema Gereja dan humanisme sekuler bukan hanya soal pandangan moral, tetapi menyentuh akar keberadaan manusia.
Dalam phronema Gereja, Allah adalah pusat segala sesuatu. Kebenaran tidak diciptakan manusia, tetapi diterima sebagai realitas ilahi. Tujuan hidup bukan sekadar kebahagiaan sementara, melainkan theosis — partisipasi dalam kehidupan Allah. Kebebasan dipahami sebagai kemampuan untuk hidup dalam kebenaran, bukan sekadar melakukan apa yang diinginkan.
Sebaliknya, humanisme sekuler menempatkan manusia sebagai pusat. Kebenaran menjadi relatif, tergantung perspektif. Tujuan hidup direduksi menjadi pencapaian diri dan kepuasan pribadi. Kebebasan dipahami sebagai ketiadaan batas, tanpa mempertimbangkan apakah arah tersebut membawa pada kehidupan sejati atau tidak.
Rasul Paulus memperingatkan dengan tegas:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.”
(Roma 12:2)
Krisis Manusia Modern
Meskipun humanisme sekuler menghasilkan kemajuan besar dalam teknologi dan kebebasan individu, ia gagal menjawab kebutuhan terdalam manusia.
Kita hidup di zaman di mana:
✓ manusia memiliki lebih banyak pilihan daripada sebelumnya, tetapi kehilangan arah hidup,
✓ kebebasan semakin luas, tetapi kecemasan juga meningkat,
✓ identitas semakin fleksibel, tetapi semakin rapuh.
Semua ini menunjukkan satu hal: manusia tidak diciptakan untuk menjadi pusat dirinya sendiri.
St. Athanasius Agung merumuskan kebenaran ini dengan sederhana namun mendalam:
“Allah menjadi manusia, supaya manusia dapat menjadi seperti Allah.”
Tanpa tujuan ini, hidup manusia kehilangan orientasi dan makna yang sejati.
Phronema Gereja sebagai Jalan Pemulihan
Gereja tidak hanya mengkritik dunia, tetapi menawarkan jalan penyembuhan. Phronema Gereja dibentuk melalui kehidupan nyata: doa, pertobatan, askesis, dan partisipasi dalam sakramen.
Melalui proses ini, manusia belajar melihat dunia sebagaimana adanya dalam terang Allah. Ia mulai melihat sesama sebagai gambar Allah, bukan objek. Ia memahami penderitaan bukan sebagai kegagalan semata, tetapi sebagai kemungkinan transformasi. Bahkan kematian tidak lagi menjadi akhir, melainkan pintu menuju kehidupan kekal.
Ini bukan teori filosofis, tetapi pengalaman hidup Gereja yang terus berlangsung sepanjang sejarah.
Pilihan yang Tidak Bisa Dihindari
Pada akhirnya, setiap manusia dihadapkan pada pilihan yang tidak bisa dihindari: hidup menurut cara berpikir dunia atau hidup menurut pikiran Kristus.
Rasul Paulus menutup dengan peringatan yang tajam:
“Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”
(Roma 8:6)
Pertanyaannya bukan lagi sekadar apa yang kita pikirkan, tetapi siapa yang membentuk cara kita berpikir.
Apakah kita dibentuk oleh dunia yang berubah-ubah, atau oleh Kristus yang adalah kebenaran itu sendiri?
Referensi Alkitab
1. Roma 8:5–6
2. Roma 12:2
3. 1 Korintus 2:16
4. Kejadian 3:5
Referensi Patristik (Orthodox)
1. St. Athanasius Agung — On the Incarnation
2. St. Maksimos Pengaku Iman — Ambigua
3. St. Isaac dari Syria — Ascetical Homilies
4. St. Yohanes Krisostomus — Homilies on Romans
Komentar (1)
Terimakasih untuk pencerahan nya... 🙏☦️ realated kehidupan rohani sy, "krisis nous"
Related Articles